Senin, 15 Oktober 2018

Kotaku "Nomoni"


Sudah 2 pekan lebih berlalu ketika kotaku “Nomoni”.  Apa itu Nomoni..?? Nomoni merupakan kata yang berasal dari bahasa kaili yang artinya Berbunyi/Bergema. Kotaku “Nomoni” dengan gema yang tak disangka,  Ya.. tidak ada yang akan menyangka, merupakan kehendak yang Maha Kuasa “Nomoni” itu menjadi ingatan yang tak akan terlupakan dengan gemuruh bumi yang berguncang.

Sumber : insta-stalker.com

Jumat 28 September 2018, di lembah kaili terdengarlah “Nomoni” seperti suara Gimba, Kakula dan Lalove yang dimainkan. Nadanya begitu sumbang, “Nomoni” nya berupa bencana, tiga bencana geologis sekaligus mengurung Kotaku : Gempa, Tsunami dan likuifaksi. Kotaku bergema dengan jeritan, hiruk pikuk, dan tangisan.   Kotaku dilanda duka yang begitu menyedihkan, begitu perih, banyak yang kehilangan keluarga, teman dan sanak saudaranya.

Tidak diduga bencana ini seketika mengakibatkan kerusakan listrik, kurangnya pasokan BBM dan kurangnya air bersih. Seringkali kita melihat bencana di luar sana, tangisan, jeritan, trauma dan kesusahan, namun kali ini kotaku yang mengalaminya. Sungguh Allah itu Maha Adil, memberikan cobaan agar kita saling peduli, agar kita lebih bersyukur, lebih sabar, agar iman kita dan pengendalian diri kita lebih kuat. Sangat miris ketika Allah memberikan cobaan namun kita mengeluh, menjarah, saling bertikai, apalagi masih sempat mencuri,  kotaku begitu memilukan.

Pascabencana, banyak yang mengutarakan kekecewaannya bahwa penyebab dari bencana ini bersumber dari ritual balia yang diadakan dalam “Festival Palu Nomoni”. Ritual ini merupakan ritual adat kaili yang sudah lama hilang, dilakukan untuk penyembuhan yang prosesnya memanggil arwah sebagai panutannya. Banyak yang protes bahkan sampai mengatai “walikota pemuja syeitan”.  Terlebih lagi ada yang mengatakan bencana ini dimanfaatkan para elit sebagai alat politik. Lalu begitu banyak warga yang mengungsi ke luar palu untuk mengamankan diri atau mungkin saja, mereka pergi selama-lamanya meninggalkan palu dan berencana untuk tidak kembali.

Apakah ada yang salah dari kotaku...??? Tidak..!!! jika ada yang perlu disalahkan adalah diri kita sendiri, jika ada yang perlu dibenah adalah diri kita sendiri, jika ada yang perlu dievaluasi adalah diri kita sendiri, Tak perlu saling menyalahkan.

Namun apa iya..??? seandainya jika tidak terjadi bencana di senja itu, kemudian “festival Palu Nomoni” membuming, apakah semuanya bangga pada budaya palu..??? tidak sedikitpun cibirian tentang Ritual Balia..?? kiranya pasti banyak yang bangga atas kotaku. Terlebih lagi media sosial ramai dengan #PaluNomoni2018

Ohh ternyata tidak..!!! Dalam pandangan islam, ritual ini merupakan perbuatan Syirik. Bagaiamana tidak dianggap syirik,,??? Kotaku mayoritas islam, dalam islam suatu penyakit dapat dinyatakan sembuh atas izin dari Allah SWT. Syirik merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah SWT. Karena orang yang berbuat syirik berarti mensejajarkan Allah dengan yang lain. Entah bencana ini merupakan cobaan, peringatan atau hukuman dari Allah SWT.

Secara geologis, bencana ini disebabkan pergeseran lempengan berkaitan dengan patahan atau sesar palu koro. Namun pada hakikatnya manusia diciptakan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, ketika bencana terjadi dapat dikaitkan bahwa penyebabnya yakni karena azab dari Allah akibat dari dosa yang dilakukan.

Dari Abu Hurairah ra berkata; Rasulullah saw. Bersabda

Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, belajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasik menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhlaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)

Budaya memang perlu dilestarikan, Selama budaya itu tidak menyimpang dari agama. Namun jika sebaliknya maka tinggalkan dan lupakan budaya itu, karena budaya itu hanyalah hasil akal manusia. Banyak harapan dari apa yang telah terjadi, kita begitu menyedihkan, kotaku perlu bangkit, mereka sangat peduli dengan kita. Lalu..?? Bagaimana dengan kita sendiri,,??? sudah saatnya kita membenah diri, Sudah saatnya kita “Nomoni”kan kota palu yang kita cintai  dengan baca quran, dengan zikir, maupun Sholawat. Saya pun salah satu orang yang memiliki hobby musik, namun sangat tidak setuju jika kita hanya sibuk dengan mengutamakan musik-musik dunia. Tidak dengan kemaksiatan, tidak dengan kesesatan, apalagi dengan kesyirikan.



Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah.


*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 

Senin, 12 Maret 2018

"The Mirror"


Semua yang hidup akan tumbuh, yang tumbuh akan mengalami proses dan setiap proses akan mempunyai hasil. Mereka yang menjalani pola hidup “sehat” hasilnya akan jarang terkena “penyakit”. Mereka yang menjalani pola hidup “hemat” hasilnya akan jarang mengalami “kekurangan”. 

Sumber : wahdah.or.id

Allah itu maha adil, memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar. Allah memberikan pola kehidupan dengan sebuah proses. Mereka yang memiliki tujuan, cita-cita dan harapan harus mengalami proses. Dalam proses inilah kita diberikan otoritas untuk menjadi apa yang kita inginkan. Mereka yang ingin jarang terkena “penyakit” maka jalanilah pola hidup “sehat” dengan penuh kesabaran. mereka yang tak ingin mengalami “kekurangan” maka jalanilah pola hidup “hemat” dengan penuh rasa syukur.

Apakah kamu percaya dengan keajaiban...?? dan apakah kamu selalu bergantung pada keajaiban...?? keajaiban pun terjadi karena ada usaha. Al-Quran pun turun secara berangsur-angsur, bayangkan pedoman hidup kita turunnya terjadi dalam sebuah proses yang begitu panjang. Maka jika hari ini kamu sedang merasakan sebuah kesulitan ataupun kemudahan percayalah itulah sebuah proses, dimana kamu sekarang sedang menjalani sebuah tahapan, yang esok hari bergantung pada apa yang kamu lakukan hari ini.

Tentunya setiap proses dan hasil juga bergantung pada-Nya. Artinya bahwa setiap peristiwa di alam semesta ini bergantung apa yang dikehendaki-Nya Karena Dia lah yang Maha Pencipta yang menciptakan segala ruang, segala proses, dan segala hasil.
Lalu..??? jika benar segala ruang, segala proses, segala hasil ialah segala sesuatu diciptakan oleh-Nya, masikah perlu adanya tujuan, cita-cita dan harapan bahkan sebuah usaha...???

Yaa..!!! karena apapun yang kita lakukan diizinkan oleh Allah SWT. Namun belum tentu diridhoi oleh-Nya. Maka milikilah tujuan, cita-cita dan harapan yang baik bahkan berusahalah dengan cara yang baik maka insya allah semuanya akan memiliki hasil yang baik. Ya... semuanya berawal dan tergantung dari niat, Allah sungguh maha mengetahui, mengetahui setiap niat hambanya. Mereka yang berniat baik akan mendapatkan hasil yang baik.

Pernahkah terjadi pada diri kita bahwa usaha yang telah kita lakukan hasilnya sia-sia...??? ketahuilah bahwa semuanya tidak ada yang sia-sia. Ketika kamu merasa apa yang dilakukan semuanya sia-sia itu tandanya kamu tak sabar. Allah maha pencipta, maha perancang, maha merencanakan, maha pemurah, maha pengasih, maha penguji, bahwa ketika apa yang  kamu lakukan, maka hasilnya sesuai proses apa yang dilakukan. Ketahuilah tahap pembelajaran kita begitu panjang, Allah memberikan siklus pembelajaran dari mengenal, mengetahui, memahami dan mengamalkannya. Lalu di uji hingga mendapatkan pengalaman, kembali lagi mengenal, mengetahui, memahami dan mengamalkannya untuk mendapatkan sebuah perubahan.

Maka berkhusnudzonlah kepada Allah SWT, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Siapa yang menanam akan menuai dan Siapa yang sabar akan beruntung.

Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah.


*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 


Minggu, 08 Oktober 2017

"Orientasi Dari Zona Nyaman"

Saya adalah salah satu orang yang memiliki hobby musik. Bagi saya musik adalah bagian dari keindahan yang tercipta melalui ungkapan atau bahasa  yang berwujud sebuah bunyi. Keindahan musik ini bisa membuat kita nyaman, tenang maupun senang. Akhir-akhir ini, salah satu lagu dari band lokal indonesia cukup trend di kalangan remaja yang berjudul “ZONA NYAMAN”.


“Keluarlah dari zona nyaman..” begitulah penggalan syair dari lagunya... timbul pertanyaan dari benak saya... apakah arti “zona nyaman” yang dimaksud...???? haruskah kita keluar dari “zona nyaman”...????. hobby bermusik membuat saya tenang, namun risih ketika membaca atau memahami kalimat “ini” seakan disuruh untuk berhenti dari hobby saya.

Saya tidak sedang mengkritik atau berpikir negatif pada syair dari lagu ini. Namun saya hanya tidak sepaham dengan siapa yang membuat sebuah ibarat atau sajak atau bisa dikatakan kalimat bijak ini...??? notabenenya setiap orang mencari sebuah kenyamanan atau ia akan melakukan sesuatu yang membuat dia merasa nyaman. Mungkin sekedar meluruskan atau mengingatkan. Beda orang, beda pemahaman. Jika gagal paham terhadap kalimat ini bisa terjebak dalam kelalaian, kesombongan, dan tidak mau bersyukur. Bahkan bisa timbul rasa iri dan dengki.

Harus diakui ada yang menganggap beribadah itu “zona nyaman”. sholat, mengaji, sedekah, berdakwah dan ibadah lainnya. Apakah harus keluar dari “zona nyaman” ini..????

Ada yang menganggap “zona nyaman” ini sebuah antonim. Tantangan,situasi ketika diri merasa resah atau sedih , tempat dimana ketika merasakan tekanan. Apakah harus keluar dari “zona nyaman” ini...??? kiranya ketika berada atau berhadapan dengan situasi ini haruslah diselesaikan atau dijalani. Orang yang dewasa atau orang yang kuat tumbuh besar dari tempat atau situasi seperti ini.

Entah asumsinya “zona nyaman” itu adalah suatu tempat, strata, aktivitas atau situasi. Allah menempatkan setiap orang berada pada “titik nol” nya sendiri. Tentunya “titik nol” masing-masing orang itu berbeda. Agar supaya bisa belajar. Dari nol menjadi yang bernilai.

Mungkin lebih tepat nya ialah “orientasi dari zona nyaman” atau “berorientasilah dari zona nyaman” bukan “keluarlah dari zona nyaman”

Karena apapun itu, Islam mengajarkan untuk bersyukur pada apa yang kita miliki. yang kelirunya jika kita tidak berorientasi dan berkembang. Yang kelirunya tidak peduli dengan orang lain, sibuk dan asyik sendiri berada di “zona nyaman” yang dimiliki. Apa lagi bahagia pada “zona nyaman” yang dimiliki,  tanpa berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain.


Maka berorientasilah...!!!! berorientasi itu upaya tidak suudzhon kepada Allah Swt. Dengan berorientasi  di mana pun kita berada, kita bisa belajar. Dan  dari “zona nyaman” yang kita miliki, kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain

Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah.


*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 

Rabu, 13 September 2017

"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"

Siapakah gerangan Pahlawan tanpa tanda jasa itu...??? hhhmmm.. tanpa tanda jasa..???!!!!! bagaimana kita katakan seorang pahlawan jika ia tak memiliki jasa atau meninggalkan sesuatu yang bermanfaat...??? apakah benar Pahlawan tanpa tanda jasa itu ialah seorang guru...??? apa iya hanyalah seorang guru yang dikatakan “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”....????????

Sumber : jihadsabili.wordpress.com

Di hari idul adha kemarin seluruh umat islam di dunia memperingati sebuah pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim yang patut diteladani. Yang di mana Nabi ibrahim As. melakukan sebuah pengorbanan karena perintah Allah Swt. Dengan melakukan penyembelihan kepada putranya Nabi Ismail As. Dan karena keikhlasannya Nabi Ibrahim As, Allah Memerintahkan kepada Malaikat untuk menggantikan seekor domba agar yang disembelih bukanlah Nabi Ismail As. 

Nah, ketika ada sebuah pengorbanan tentunya ada cinta di balik semuanya. Karena cinta maka pengorbanan dilakukan dengan sebuah keikhlasan. Sebuah pengorbanan bukan dilihat dari apa yang dilakukannya, namun sebuah pengorbanan adalah sesuatu  yang dilakukan dengan ikhlas.

Bukan hanya seorang guru, Semua orang bisa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa,. Why...??? karena “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”  ialah mereka yang melakukan sesuatu dengan ketulusan dan Keikhlasan... bahkan belum tentu semua guru dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa jika apa yang dia lakukan tidak dengan sebuah keikhlasan. Lalu Apakah Nabi ibrahim juga bisa disebut pahlawan tanpa tanda jasa...??? Semua Nabi adalah pahlawan, namun tidak semua pahlawan adalah Nabi. 
 
Tahukah kawan..?? Mereka yang melakukan suatu pengorbanan dengan ketulusan dan keikhlasan akan mudah terlupakan keberadaannya, bahkan bisa saja tidak disadari oleh orang-orang yang hanya memuja dan hanya bangga terhadap sesuatu yang terlihat maupun apa yang diketahui. Namun mereka menjadi yang menggagumkan dan menjadi yang diteladani bagi orang-orang yang memahami apa yang tidak diketahui dan apa yang tidak semua harus terlihat. Ya, mereka ikhlas tercipta dari pemikiran-pemikiran tidak sempurna dan tenang berada di belakang pujian.

Hukum tarik-menarik gravitasi Newton dalam bidang fisika berarti gaya tarik untuk saling mendekat satu sama lain. Dalam bidang fisika tiap benda dengan masa m1 selalu mempunyai gaya tarik menarik dengan benda lain (dengan massa m2 ).

Nah, hukum tarik-menarik inilah yang akan berlaku. Segala sesuatu yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Mereka yang selalu melakukan kebaikan-kabaikan hanya karena Allah swt. Akan mendapatkan balasannya. Dan itu adalah rahasia Allah menjadikan kemuliaan kepada hambanya. dan Allah Swt. Menyimpan keikhlasan itu dalam inti setiap hambanya.

Dan harus diketahui bahwa Iblis hanya akan menyerah pada orang-orang yang ikhlas kepada Allah Swt. Ya, Bagaimana bisa iblis bisa menggoda dan menjerumus hambanya bila hambanya benar-benar ikhlas...???


Semoga saja kita akan menjadi sesuatu yang terambil dari catatan tuhan yang akan terus menceritakan tentang kebaikan-kebaikan kita. Aamiin..    

Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah.

*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 

Minggu, 27 Agustus 2017

AYAH |“Dua Sayap” #2

Tak lengkap jika saya tidak bercerita tentang AYAH. Ibarat sepasang sayap, seekor burung takkan bisa terbang jika hanya memiliki satu sayap. 

Kali ini saya akan bercerita tentang Ayah, walaupun kenyataannya ayah saya telah tiada sejak saya berumur tiga tahun. Saya akan mencoba untuk memahami dan bercerita tentangnya.

 Seringkali saya bertanya kepada ibu “bagaimanakah sosoknya..?”, seringkali beliau pun menjawab dengan jawaban yang sama. Nak, jika kamu ingin tahu seperti apa sosok Ayahmu, bercerminlah. Dengan sendirinya kamu akan tahu seperti apa Ayahmu.”

Buah yang jatuh takkan jauh dari pohonnya. Pepatah inilah yang mewakili maksud Ibu. Bahwa karakter seorang anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya.  

Sumber : ceritamedan.com

 Tak bisa dipungkiri bahwa jasa seorang Ayah juga begitu luar biasa terhadap sebuah keluarga. Dengan kerja keras dan tanggungjawab Ia menafkahi keluarga. Setiap tetes keringat yang jatuh adalah tanda perjuangannya. Hatinya begitu mulia, tanpa pamrih.

Dialah yang selama ini berada di samping ibu untuk merawat, menjaga dan melindungi kita. Dialah yang menegaskan kepada ibu untuk tidak terlalu memanjakan agar kita bisa memiliki karakter yang baik, sabar, kuat, dan mandiri. Mendidik menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Mungkin sebuah kebiasaan, Seringkali ketika kita menangis dan bahkan ketika kita ketakutan, panggilan yang seketika terucap di mulut kita adalah “IBU”.

 Apakah kita pernah berpikir bahwa Ayah pernah cemburu atas hal itu…??. Tidak, bahkan Ia pun tidak pernah mempermasalahkannya. Padahal Dialah yang sangat mengkhawatirkan keadaan kita.

Saya begitu yakin karena kitalah kebanggaanya, semangatnya dan dambaannya. Kitalah suatu alasan yang menjadikannya tegar. Karena begitu teguhnya memegang amanah dan merasa bahwa itulah tanggungjawabnya, Setiap duka maupun luka ia sembunyikan. 

Tak banyak yang pandai memahami Ayah. Banyak yang tidak menyadari bahwa seringkali tidak berlaku adil. Padahal berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban sebagai anak, tanpa membedakannya. Sudah seharusnya luangkan waktu untuk memahaminya.

Bercerita tentang Ayah bagaikan bercerita tentang kisah yang terindah. Terimakasih Ayah atas jasamu, terimakasih telah menemani Ibu selama ini. Doa akan selalu terpanjatkan untukmu Ayah.

 “Bagaimanakah sosokmu, hai seorang laki-laki yang disebut Ayah…?? Banyak yang berkata, cintamu dan nasehatmu bisa menguatkan anak-anakmu… Bisa membuat mereka tersenyum dan tertawa dengan sebuah candamu…”

 “Banyak yang berkata kau adalah laki-laki yang sabar, seorang pejuang, kepala rumah tangga yang bijak, seorang kepala rumah tangga yang dihormati… Banyak yang berkata bahwa kau adalah sosok yang terkesan diam tak peduli, namun sesungguhnya di hatimu adalah buah hatimu yaitu anak-anakmu…”

 “Apakah kau adalah sosok yang tak pandai menunjukkan perasaanmu kepada anak-anakmu…?? Apakah itu bertanda kau adalah sosok yang sangat pandai memendam perasaan dengan baik…??” Sangat menarik…


“Bila itu semua benar… Bersyukurlah mereka, dimana keberadaanmu masih berada dekat dengan mereka… Saya ingin bercerita banyak tentangmu… Tapi entah mulai darimana…??”

Kamis, 17 Agustus 2017

Ada Apa Dengan "SEMANGAT '45"...???

Tahun ini tepat pada hari kamis, dirgahayu bangsa indonesia yang ke 72 tahun. Tentunya kita semua berharap bahwa kita akan menjadi bangsa yang rakyatnya semakin sejahtera, sentosa, bertambah dewasa, menjadi negara yang selalu makmur.

Kita selalu mengadakan upacara bendera, menyanyikan lagu indonesia raya dan umbul-umbul merah putih menghiasi jalan dan rumah-rumah, bahkan lomba-lomba diadakan untuk memeriahkannya.


Seringkali kita mengucapkan semangat ’45. Ya, kata ini sudah sangat familiar bagi kita. Namun apa sih arti SEMANGAT ‘45...??? Ada apa dengan SEMANGAT '45...???

Apakah semangat ini adalah semangat yang berkobar-kobar,,,??? Apakah semangat ini adalah semangat patriot...???  

Kenapa bukan semangat 2017..??? toh sekarang tahun 2017...??? atau kenapa bukan semangat 72, karena sekarang umur bangsa indonesia 72 tahun. apakah beda semangatnya dengan semangat ’45...??? padahal sekarang tahun yang teknologinya lebih maju. Padahal sekarang kita berada pada masa yang merdeka. (apa iya kita sudah merdeka...???)

Apa sih arti SEMANGAT ’45...??? apakah semangat ini maksudnya untuk mengingatkan kita semangat para pejuang...?? apa iya semangat ini adalah semangat yang berapi-api, berjuang tumpah darah untuk membela tanah air...???

Jika benar semangat ini untuk mengingatkan perjuangan para leluhur, para pahlawan, apakah para koruptor tidak tersadar akan semangat ini...??? mereka seakan lupa dan bisa dikatakan tidak menghargai pengorbanan para pejuang. Mereka yang semena-mena, belajar untuk menjadi penjajah. Mereka yang menjajah lupa bahwa mereka menjajah di negara sendiri.

Apakah para remaja yang ugal-ugalan, membuat onar dan yang membegal tidak tersadar akan semangat ini...??? apakah mereka yang hanya menghabiskan waktu untuk yang tidak bermanfaat dan mereka yang hanya berdua-duaan tidak tersadar akan semangat ini...???

Kita masih apatis akan hal ini. Bagaimana seandainya jika hari ini kita masih terjajah oleh negara lain...??? bekerja kantoran berdasi rapi dan bersih(kalau diperbolehkan) namun bekerja hanya untuk penjajah, dengan tangan diborgol tanpa istirahat yang cukup. Bekerja dengan kepala yang selalu menunduk.

Bagaimana jika seandainya hari ini kita masih terjajah oleh negara lain...??? apakah masih ada mereka yang ugal-ugalan, membuat onar dan yang membegal ..?? ada, tapi bukan dari remaja kita, tapi remaja para penjajah. Tidak ada canda tawa dari remaja kita.

Lalu...?? Apa iya SEMANGAT ’45 maksudnya agar supaya kita selalu mengingat semangat cinta tanah air para pejuang...??? dengan selalu melaksanakan upacara bendera...??? dengan memasang umbul-umbul...??? dengan mengadakan lomba...??? apa ini maksudnya SEMANGAT ’45...???

Saya kira arti SEMANGAT ’45 maksudnya agar supaya  kita bersyukur kepada Allah Swt. telah memberikan karunianya ialah sebuah kemerdekaan kepada bangsa indonesia, tanah air kita.

Kiranya semangat ini, agar kita selalu bersyukur bahwa tahun ini masih bisa memperingati kemerdekaan indonesia.

Kiranya semangat ini, agar kita semakin bersyukur dengan berbagi dan membantu kepada yang membutuhkan pertolongan. Bahwa kita bisa beribadah dengan tenang.  Agar selalu semangat belajar dan berbuat amal kebaikan.

Dan kiranya SEMANGAT ‘45 ini, mengingatkan kita bahwa untuk merdeka dan sejahtera itu butuh semangat juang yang tinggi, proses, kesabaran, memiliki semangat nasionalisme, dan butuh kerjasama kita semua.


MERDEKA...!!! MERDEKA...!!! MERDEKA...!!!

Minggu, 13 Agustus 2017

IBU | “Dua Sayap” #1

Hari ini tepat tanggal 13 agustus 2017 dengan usia yang bertambah dewasa, saya kembali bersyukur kepada pemilik arasy, Allah Swt.  Yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang masih memberikan kesempatan kepada saya. Masih diberikan tangan, kaki, telinga, atau fisik yang sehat dan senyuman yang sempurna. Untuk bertaubat, untuk lebih dewasa, mencari ilmu, dan berbuat amal kebaikan. 

Hari ini saya tidak bercerita tentang cita dan harapan saya, namun saya ingin sekali bercerita tentang IBU. Tulisan ini saya buat sebagai ucapan terima kasih kepada Para ibu yang sangat mulia dan berjasa kepada kita semua, terutama kepada Ibu saya sendiri.

Sumber : www.bintang.com

Ibu… Ibu… Oh... Ibu… Hampir semua menganggap bahwa Ia adalah sesosok malaikat yang tak bersayap, Sesosok pahlawan paling berjasa yang melahirkan kita ke dunia ini, Seseorang yang paling bersejarah dalam kehidupan dan tentunya berperan penting dalam sebuah keluarga. Tidak ada satu pun cerita inspirasi tentang ibu hanyalah khayalan dan bualan belaka. Dan tidak ada satu pun puisi indah tentang ibu yang hanyalah pujian dan rayuan belaka, karena Dialah kasih yang nyata.

Ibulah yang telah merawat dan yang membesarkan, kemudian dengan tulus dan ikhlas memberikan kasih sayangnya kepada kita. Siang dan malam menjaga kita dengan tegar agar buah hatinya tumbuh dewasa, Menghibur ketika kita menangis rewel  dan sangat khawatir ketika kita sedang sakit.

Ketulusan dan keikhlasannyalah yang mengajarkan bahwa suatu kebaikan itu hanya bisa dipahami dengan kasih, kemudian melakukannya pun dengan kasih. Ya, Seorang Ibu adalah madarasah bagi anaknya. Dialah yang mengajarkan bahwa dengan ketulusan dan keikhlasan, sesederhana atau sekecil apapun suatu kebaikan yang dilakukan, akan menjadikannya kebaikan-kebaikan lainnya.

Sesungguhnya tulus dan ikhlas itu tentang cara bagaimana  melakukannya. Karena benar bahwa ketika ingin mengatakannya,  seketika semuanya akan larut bersama pujian dan bias begitu saja. 

Menjaga dan mendidik dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Ialah yang rela mengorbankan pikiran serta tenaganya, mendedikasikan dirinya untuk anak-anaknya.

 Dan di saat kita dalam kandungan, Dia tak pernah mengeluh dan rela menggendong kita kemana Ia pergi. Dengan senyuman Dia mengajarkan satu maupun dua ejaan kata untuk diucapkan, dengan semangat dia mengajarkan langkah demi langkah hingga kita bisa berjalan.

Dialah yang memperkenalkan dunia kepada kita. Dan tanpa disadari lagi  Dialah yang mengajarkan sebuah kesabaran. Salah satu disiplin ilmu yang Ia tanamkan kepada kita untuk meraih kesuksesan.

Sabar dapat membentuk karakater seseorang untuk tidak mudah putus asa, pantang menyerah, percaya diri dan semangat untuk terus menjadi lebih baik.

Inilah yang mampu membuat kita bertahan sejauh ini. Ia yang selalu datang memberikan semangat dan motivasi, yang selalu menasehati ketika jatuh dalam sebuah kegagalan dan menuntun untuk bangkit menuju prestasi. Luar biasa kasih sayang ibu.          

Namun kiranya bahwa tidaklah dikatakan seorang “ibu” bila tega menzolimi bahkan membunuh anaknya sendiri. setuju…?? 

Jauh dari yang diharapkan, tak sedikit berita bahwa ada anak yang menelantarkan ibunya, semakin banyak anak yang menitipkan ibunya di panti jompo dan bahkan sinetron religi islami pun banyak mengkisahkan anak yang durhaka kepada ibunya. Hal ini sangat tidak dibenarkan. Bukanlah seperti itu balasan yang pantas diberikan kepadanya. 

Seharusnya sebagai anak, dengan kasih sayang pula kiranya dapat membalas budi atas kasih sayang yang diberikan olehnya, walaupun ibu tak mengharapkannya.

Pernahkah kamu mendengar sebuah cerita ketika salah satu sahabat Nabi yaitu Umar Bin Khatab dimarahi istrinya…??

Beliau hanya diam mendengarkan, padahal yang kita ketahui bahwa beliau pada saat itu ialah satu satunya manusia yang setan pun takut kepadanya. Beliau hanya terdiam dan menyimak semua keluh kesah istrinya.

Ketika ditanyakan alasannya, beliau pun menjawab. “Karena Ia telah melahirkan anak-anakku, menjaganya dan mendidiknya. Maka amarahnya tak sebesar pengorbanan yang Ia lakukan untuk keluargaku.”

Lalu sebagai anak, bagaimanakah perlakuan kita kepada Ibu…?? Balasan apa yang sudah kita berikan kepada Ibu…?? Ataukah hingga sampai saat ini ucapan terimakasih pun belum terucap kepadanya…?? Dan bahkan kata maaf pun belum terucap kepadanya…??   

“Ya Allah,, Tuhan yang Maha Pengampun… Ampunilah dosaku, Kiranya bahwa hamba pernah berbuat dosa kepada Ibu.”

 “Ya Allah,, hamba menadahkan tangan kepada-Mu, maafkanlah hamba kiranya bahwa hamba pernah menelantarkan Ibu, kiranya bahwa pernah membantah bahkan membentak Ibu. Maafkanlah hamba kiranya  pernah menyakitinya, Dia yang selalu terjaga dan menyelimuti setiap malam saat hamba tertidur, Dia yang selalu mendoakan disetiap kesuksesan hamba, mendoakan kesehatan dan keselamatan hamba di manapun berada ”

 “Oh Ibu,, maafkanlah bila selama ini telah membebanimu, maafkanlah bila kelakuan anakmu ini hanya selalu menyusahkanmu. Maafkanlah kiranya hanya bisa meneteskan air mata kesedihan di pipimu.”

“Oh Ibu,, maafkanlah anakmu ini yang kiranya tak pandai membalas kebaikanmu, yang tak pandai berterima kasih kepadamu, Maafkanlah anakmu ini yang kiranya belum sempat membahagiakanmu hingga saat ini.”

“Oh Ibu,, aku sayang kepadamu, aku cinta kepadamu”

 “Ya Allah,, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang… Walaupun kiranya doa pun mungkin belum sebanding dengan jasa  yang selama ini Ia berikan. Hamba bermohon kepada-Mu lindungilah ibu di manapun ia berada, jagalah dia dari orang-orang yang ingin menyakitinya kasihanilah dan sayangilah Ibu sebagaimana Ia mengasihi dan menyayangi hamba sewaktu kecil." Aamiin. Ya rabbal alamiin.