Sabtu, 29 Juli 2017

“Wajar atau Tidak Wajar” bukan “Benar atau Salah” (???)

Dalam ilmu akuntansi, ketika auditor memberikan opini terhadap laporan keuangan, tidak berstandarisasi atau berorientasi pada nilai substansi “BENAR” atau “SALAH” melainkan “WAJAR” atau “TIDAK WAJAR”.  Ini menunjukkan bahwa nilai substansi dalam ilmu akuntansi berorientasi bukan hanya pada hasil melainkan juga pada proses.

Nah, ilmu akuntansi mengingatkan bahwa kebenaran mutlak semata-mata hanyalah milik Allah Swt.

Berbagi pemahaman, Jika benar kita sama-sama sepaham bahwa kebenaran mutlak itu semata-mata hanyalah milik Allah Swt. Benar atau salah tidak langsung menjadi substansi standarisasi atau orientasi pada proses yang kita lakukan, melainkan masih pada wajar atau tidak wajar.

Sumber : Pixabay.com

Ketika berbeda apa yang kita pahami dan apa yang kita alami dengan orang lain, WAJAR kah kita berbeda pendapat...???

 atau ketika kita belum paham dan belum mengalami, sementara orang lain sudah cukup dalam memahami dan jauh mengalami, WAJAR kah kita membangkang...???

 Atau sebaliknya kita sudah cukup dalam memahami dan jauh mengalami daripada orang lain, WAJAR kah kita untuk angkuh...????

 Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  telah mencontohkan bagaimana cara menasehati dan berdakwah yang baik, lalu WAJAR kah kita  menjatuhkan, menzholimi, bahkan melakukan kekerasan dalam berdakwah..???

Lalu jika kita berdakwah dengan santun, sebaliknya kita yang terzholimi. WAJAR kah kita untuk melawan...??? atau ketika kita tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kekerasan atau sesuatu yang menjatuhkan dalam berdakwah, WAJAR kah kita terzholimi..???

Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  telah menganjurkan untuk menjauhi perdebatan,,, WAJAR kah kita masih saja berdebat untuk perkara yang tidak penting...???

Ketika dalam suatu negara rakyatnya merasakan kesengsaraan sementara  nyatanya negara memiliki kekayaan yang banyak, WAJAR kah rakyatnya mengeluh...???

atau ketika dalam suatu negara penguasa-penguasa tidak berlaku adil, serakah, menzholimi, WAJAR kah rakyatnya meminta keadilan..???

sebaliknya,,, ketika penguasa-penguasa sudah maksimal untuk mengurus rakyatnya, sudah cukup berusaha membangun negara, WAJAR kah jika rakyatnya masih juga mengeluh..???

Perselisihan, perpecahan dan penyimpangan menggambarkan adanya ketidakwajaran dari apa yang terjadi. Dari siapa yang cukup lebih mengetahui malah merendahkan dan memanfaatkan, yang kurang cukup mengetahui malah membangkang, yang merasa sudah beriman malah mencaci bahkan ada yang riya. Semua mulai saling menyalahkan dan mulai merasa paling benar.

Padahal masih ada yang Maha Besar, Maha Agung, Maha Esa, Maha Mengetahui, Maha Mengadili, Maha Segala-galanya.....

Dari sedikit perkara umum yang saya sampaikan,, apakah memang kita harus berorientasi langsung pada “BENAR atau SALAH” dalam proses apa yang kita lakukan...???   atau WAJAR kah kita berorientasi pada “BENAR atau SALAH” dalam proses apa yang kita lakukan..???

Semoga kita masih menjunjung pada MUSYAWARAH dan MUFAKAT bukan PERDEBATAN atau KEKERASAN dalam mengambil cara untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan kita bersama. Dan konsisten pada tujuan dan apa yang sudah disepakati bersama.


Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah. 

*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 

Jumat, 21 Juli 2017

"Ta'aruf = Pacaran"

Mungkin teman-teman pembaca akan mengira bahwa ini pemahaman aliran kiri. Menganggap saya keliru memahami agama, masih perlu belajar agama, memiliki pemahaman yang dangkal dan terlebih lagi ada yang sudah mendoakan saya agar mendapatkan hidayah.

 Selama masih didoakan dengan tujuan yang baik-baik saya mengucapkan terima kasih dan meng “aamiin” kannya....

sumber : www.viva.co.id

Berpikirlah dan bertindaklah positif, maka alam pun akan merespon positif terhadap apa yang kita telah pikirkan dan lakukan.

Saya hanya bermaksud berbagi pemahaman. Saya hanya ingin mengajak semuanya berpikir positif dan  tidak berpikir berlebihan.

Menurut pemikiran dangkal saya bahwa Ta’aruf = Pacaran.. Why...??? karena sama halnya ketika kita mengatakan “Assalamualaikum Akhi” = “Assalamualaikum Bro” atau ketika mengatakan Jaza-Kallah Khairan Katsiiraa” = “Thanks very much brother

Maksud saya begini... Saya hanya berpikir bahwa kenapa ketika kita mendengar atau mengucapkan kata “Akhi = Bro” kita sama-sama memahaminya dan sepaham bahwa artinya saudara laki-laki... “Jaza-Kallah Khairan Katsiiraa” = “Thanks very much brother” sama-sama kita pahami bahwa artinya adalah ucapan terima kasih kepada saudara laki-laki.

Dari sini pemahaman perlu konsisten dan perlu memahami substansinya....

Bahkan “Sholat = Sembahyang” sama-sama kita pahami menyembah Allah Swt. Kata “Sembahyang” walau diucapkan oleh seorang muslim kita pahami menyembah Allah Swt. Padahal kata “sembahyang” maksudnya bisa sembahyang di gereja untuk umat kristiani, bisa sembahyang di pura untuk umat hindu, dan untuk umat lainnya.

Namun sebaliknya bahwa ketika berbicara Ta’aruf = Pacaran walaupun diucapkan oleh seorang muslim,  pemahaman terbagi menjadi pro dan kontra... terlintas bisa dikatakan bahwa pemikiran kontra inilah yang mungkin negatif atau berpikir berlebihan terhadap arti pacaran... Apakah hanya karena berbeda bahasa atau kata semuanya dinilai negatif...?? 

Secara nyata, benar bahwa perilaku pacaran atau implementasi pacaran sangat jauh berbeda dengan Ta’aruf... Namun apakah ini yang menjadi penilaian substansi yang benar..?? 

Yang keliru ialah mereka yang membiarkan hawa nafsu mereka menguasai diri mereka... yang keliru ialah mereka dan kita yang masih bersifat “Apatis”... kenapa mereka dibiarkan berdua-duaan...??? yang keliru ialah mereka yang tidak mengetahui “Cara”nya...  keliru melakukannya sehingga bisa menyimpang. Tidak bisa memfilter budaya yang tidak baik dan akhirnya menjadi budaya yang negatif.

Teori afirmasi dalam ilmu Psikologis merupakan kekuatan berpikir positif. Dr. Ibrahim Elfilky mengatakan bahwa “Kenyataan hanyalah persepsi anda. Jika anda ingin mengubah kenyataan hidup anda, mulailah dengan mengubah persepsi anda”.

Sebelum memperbaiki caranya kita harus memperbaiki persepsi kita...

Nah, persepsi inilah yang seharusnya kita perbaiki, agar kenyataan bahwa mereka yang salah bertindak dalam mengatasnamakan cinta, memahami batasan dan aturannya. Bila dua orang saling mencintai ingin saling mengenal (Ta’aruf = Pacaran) tidak boleh mengikuti budaya barat yang caranya berdua-duaan, berpegang-pegangan tangan, dan berciuman. Dalam islam jelas bahwa dalam berpandangan pun harus terjaga.

Tegasnya... yang saya ketahui dan percaya bahwa islam mengajarkan substansi yang baik, niat yang baik, ucapan-ucapan dan cara-cara yang baik.  Maka seorang muslim mengetahui apa yang harus dia ucapkan dan apa yang harus dia lakukan. Seperti halnya “BERPIKIR POSITIF” dan “TIDAK BERLEBIHAN”.

Semoga maksud yang saya sampaikan dalam tulisan ini tidak membuat teman-teman pembaca gagal paham...


Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah. 

*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kekhilafan berasal dari penulis 

Jumat, 07 Juli 2017

"Major dan Minor"

Melihat banyak yang telah terjadi di lingkungan kita mungkin ada sesuatu yang terlupakan oleh kebanyakan orang bahwa kita diciptakan oleh Allah SWT berbeda-beda. Ada laki-laki, ada perempuan, berbeda bangsa dan berbeda suku.

Peraturan yang berlaku notabenenya untuk mengatur, mentertibkan, mencegah kekacauan, mempersatukan suatu perbedaan sekarang layaknya dipandang sebagai pernyataan dalam kuesioner yang jawabannya Sangat setuju,  Setuju, Ragu-ragu, Tidak setuju, Sangat tidak setuju. Semuanya bisa berpendapat, semuanya punya persepsi masing-masing bahkan ada yang tidak lagi memandang hukum.

Hari ini mungkin moral hukum menurun, esok hari nilai-nilai moral yang lain mungkin saja ikut menurun. Mungkinkah nilai agama pun akan menurun...??? naudzubillah minzalik...

“Alunan lagu yang terdengar indah merupakan gabungan dari nada-nada yang berbeda”.
“Pelangi yang terlihat indah merupakan gabungan dari warna-warna yang berbeda”

Bila kita pun berbeda bukan berarti kita tak bisa bersama bukan...???

Berbagi pemahaman, tanpa disadari kita masih tergolong “APATIS”

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan suatu golongan atau siapa yang termasuk apatis karena saya pun masih termasuk apatis. Namun saya hanya ingin mengingatkan dan mengajak untuk mencari solusi bersama-sama sebagai tanggungjawab kita untuk mewujudkan keharmonisan yang hakiki.


Kenapa kita masih termasuk “APATIS”...??? 
   
Apakah kita benar-benar sudah saling “MENGENAL”...??? apakah kita benar-benar sudah saling “MEMAHAMI”...???

 Di tulisan saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa menulis merupakan proses belajar, ialah belajar untuk mengungkapkan.... Belajar mengungkapkan, berarti juga belajar untuk berkata jujur.

Berikutnya yaitu “MEMAHAMI”. Karena menulis, kita bisa belajar untuk memahami. Ketika mengungkapnya di atas sebuah kertas seketika seseorang atau kejadian yang akan diungkapkan berusaha untuk dijiwai, dihayati dan dirasakan sebab dan akibatnya.

Dan selanjutnya bahwa ketika proses memahami terjadi, dapat disadari bahwa ternyata hidup ini bukan hanya sebatas proses adanya sebab dan akibat melainkan juga proses adanya; dari, oleh, dan untuk. Karena menulis bukan persoalan bercerita tentang objek melainkan juga bercerita tentang subjek. 

“Memahami Substansi yang bukan hanya memandang formalitas”

Dalam kehidupan sehari-hari memahami mampu membuat dirimu tersenyum di kala seseorang temanmu marah karena kesalahpahaman. Mampu membuatmu tersenyum di kala kamu mengetahui bahwa temanmu sedang membohongimu. 

Kasus pencurian karena kelaparan di zaman khalifah Umar Bin Khatab itu bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Suatu ketika, ada orang kaya sampai berkali-kali datang untuk melaporkan pencurian yang terjadi di sekitarnya, beliau malah mengancam orang itu yang akan dihukum. Karena sesungguhnya, dialah yang menyebabkan orang-orang itu terpaksa mencuri...

Mungkin bukanlah sebuah solusi dalam setiap perkara, namun saya yakin bahwa memahami merupakan cara untuk bisa mencegah sebuah perkara. Alangkah indahnya jika kita bisa saling memahami. J

Apa iya “INI” tentang “PERBEDAAN”...??? namun sudah jauh berbicara tentang perbedaan, bagaimana seandainya memang kita ternyata masih tetap saja tergolong yang  “SAMA”...???

Dan semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa, dan orang-orang yang bertaqwa itu “MEMAHAMI”


Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah. 


*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran berasal dari Allah Swt. dan kehilafan berasal dari penulis 

Senin, 03 Juli 2017

"Nada Dasar"

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan begitu banyak kenikmatan kepada semua hambanya termasuk saya.

Nafas yang berhembus, mata yang melihat, telinga yang mendengar, kaki yang berjalan, tangan yang menggenggam, akal yang berpikir dan hati yang merasakan. Kemudian pagi menjadi malam, malam yang kembali pagi, dan termasuk cerahnya langit berganti hujan.

Namun pernahkah kita berpikir tentang sebab akibat semua apa yang terjadi dalam kehidupan ini...??? Apa yang kita ketahui tentang kemarin, hari ini dan esok hari...???

Yang kita ketahui hanyalah “KETIDAKTAHUAN” dan Dia-lah yang Maha Mengetahui, Pemilik Arasy.

Berbagi pemahaman, ketidaktahuan merupakan kekuatan yang kita tidak sadari. Why…?? Karena ketidaktahuan mendorong kita memiliki rasa ingin tahu.

Lah, rasa ingin tahu kan karena pada hakikatnya  manusia memiliki hawa nafsu. Yups, tapi apakah pengetahuanmu sedari dulu mengetahui adanya hawa nafsu..?? tentunya berawal dari ketidaktahuan mendorong rasa ingin tahu, sehingga mempelajari, lalu memahami, kemudian memaknai adanya hawa nafsu. Betul…??

Semakin besar rasa ingin tahu semakin banyak yang diketahui, maka kita akan menyadari yang kita ketahui hanyalah ketidaktahuan. MAKA,, Bersyukurlah bahwa kita dibekali dengan ketidaktahuan sehingga kita bisa mengalami proses belajar...

Ketidaktahuan membuat saya terinspirasi dan termotivasi sehingga berani untuk menulis. Menulis juga merupakan proses belajar, ialah belajar untuk mengungkapkan. J

Semua apa yang ingin diungkapkan dalam sebuah tulisan adalah ungkapan hati atau ungkapan perasaan atau ungkapan emosional maupun hasil dari apa yang kita pahami. Namun bukan sebuah jaminan, bahwa seluruh apa yang tertulis adalah suatu kejujuran. Why…?? Karena inilah proses dimana seseorang terdorong untuk mengungkapkannya dengan jujur. Maka belajar mengungkapkan, berarti juga belajar untuk berkata jujur.

Kejujuran adalah sifat yang datang sebagai pilihan, yang telah dicontohi suri tauladan kita ialah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang akan menuntun ke arah kebaikan bagi siapa saja yang ingin mengungkapkannya. Kiranya bahwa “Menulis” sebuah kejujuran akan menghasilkan sesuatu yang sangat berharga yaitu kepercayaan. Baik itu kepercayaan diri maupun kepercayaan yang diberikan oleh orang lain atas potensi yang dimiliki. Dan kebohongan hanya akan memberikan kesuksesan yang sementara lalu akan memberikan kehancuran untuk selamanya.  Maka belajarlah untuk berkata jujur, Insya Allah akan mendapatkan sebuah kemuliaan. J

Berbicara tentang kejujuran berkaitan dengan suatu kebenaran karena berkata jujur berarti mengungkap fakta atau kebenaran yang terjadi. Namun segala ungkapan kebenaran itu diperlukan sebuah kecerdasan dan kebijaksanaan, tentunya setiap orang masing-masing mempunyai indikator kecerdasan dan kebijaksanaan yang berbeda dalam mengungkapkan sesuatu.

Maka setiap kebenaran ada yang benar-benar harus diungkapkan, ada yang tidak harus diungkapkan, ada yang belum saatnya diungkapkan dan ada yang tidak penting untuk diungkapkan. Karena terkadang bahwa mengungkap suatu kebenaran hanya akan berakibat buruk,  yang sebaiknya kamu diam dan tidak mengungkapkannya.

Namun kebenaran apapun yang akan diungkapkan bersifat tidak mutlak, bahkan seberapa luas kita memperoleh dan  memahami kebenaran yang bersumber dari-Nya. Karena tetap saja kebenaran itu menjadi kebenaran relatif. Seberapa hebat kita menafsirkannya, namun itu hanyalah sebuah tafsiran bukan sebuah kebenaran mutlak. Dan kebenaran mutlak tetap saja tersimpan oleh-Nya.

Dan kembali lagi kebenaran yang kita ketahui hanyalah “KETIDAKTAHUAN”

Maka sangat tidak tepat bila sesama muslim, kita merasa yang paling benar dan paling baik.  Dan tidaklah tepat pula bahwa ketika kita membenarkan suatu kebenaran hanya melihat dari siapa yang mengungkapkannya. Yang seharusnya bahwa siapapun yang mengatakan kebenaran, petiklah hikmahnya. J

Marilah kita saling mengingatkan, terus bertabayyun dengan melihat proses yang terjadi. Dan marilah kita bersama-sama bermuhasabah. 


*Tulisan ini hanyalah sebuah proses muhasabah dan tabayyun dari penulis. Sesungguhnya semata-mata kebenaran dari Allah Swt. dan Kekhilafan Berasal dari Penulis